Minggu, 08 Juni 2014

Air mineral dan telat natur

Cerita ini dimulai semenjak Shanum sering main ke rumah tetangga. Tetangga kami sangat baik. Saking baiknya, hanya lewat saja kadang sudah dinanti dengan sekantong plastik makanan kecil ketika lewat lagi. Mulai dari keripik sampai brownies *joget.
Nah beberapa hari ini, Shanum sering bawa pulang air mineral gelasan. Mungkin karena saya dan suami juaarang banget kasih air mineral, jadilah sangat tertarik minum pakai sedotan dari gelas transparan itu. Tidak pernah habis satu gelas sih, tapi cukup membuat perut Shanum penuh air.
Tidak sampai setengah jam setelah minum air mineral itu, anak perempuan kami selalu pipis dengan kuantitas lebih dari biasanya. Tidak cukup sekali lho, perkiraan saya 10 menitan sudah pipis lagi (ngompol). Biasanya sih sejam sekali baru pipis dan kasih kode minta diantar ke kamar kecil. Sehari-hari Shanum memang tidak pernah memakai pospak ataupun clodi, jadi ya kalau telat “natur” bakalan basah kemana-mana. Eiits walaupun tidak pakai pospak, saya tidak terlalu repot karena sudah terbiasa kasih kode, nepok-nepok pantat gitu..hee lucu banget.
Oke, kembali ke air mineral. Pipis yang over itu tidak hanya terjadi sekali tapi selalu setelah minum air mineral. Saya tidak tahu kenapa. Tebakan saya sih karena air mineral tidak dimasak (direbus) terlebih dahulu sedangkan Shanum biasa minum air matang direbus yang sumbernya dari air sumur *wus detail amat yak? Alhasil tiap minum air mineral, saya selalu stanby "natur" kalau tidak ya bakal ada tambahna cucian..hadeew.
Pernah kepikiran, kalau suatu saat diajak keluar kota dan minumnya full air mineral, harus siap clodi banyak nih..hee


- natur, ditatur : toilet training dalam istilah jawa.

Sabtu, 07 Juni 2014

Muda dan Sedekah

Pagi di lampu merah Sagan, Yogya memang padat. Maklum dekat dengan beberapa kampus. Waktu itu saya berada di baris kedua pinggir kiri antrian lampu merah. Saat lampu sudah menunjukkan warna hijau, bersiap tancap gas dong. Eh mas-mas depan saya (terlihat anak kuliahan) malah sibuk mencari sesuatu di kantong celananya. Ada rasa kesal giman gitu, lampu sudah hijau malah sibuk sendiri. Beberapa detik kemudian, selembar uang kertas, entah berapa nilainya, dia berikan kepada simbah-simbah dekat tiang lampu merah. Ah jadi pengen malu sendiri. Saya kira mas-mas itu mau membuka hp, ternyata hendak sedekah.

**Kejadiannya sudah lebih dari 5 tahun lalu, saat saya masih kuliah tapi masih selalu saya ceritakan. Masih muda dan tidak ragu sedekah, walaupun sekarang sudah tidak diijinkan lagi memberi pengemis di pingir jalan. Mungkin mas-mas itu masih rajin sedekah sampai sekarang, hanya berbeda cara dan sasarannya. Semoga.